Mohon Maaf, Website Sedang dalam Tahap Pengembangan. Terima kasih telah mengunjungi situs kami. Saat ini, kami sedang melakukan pengembangan dan pembaruan sistem guna memberikan pengalaman menjelajah yang lebih baik bagi Anda. Beberapa fitur mungkin belum berfungsi secara optimal. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini dan sangat mengapresiasi kesabaran Anda. Silakan kembali lagi dalam beberapa waktu ke depan.   •   Mohon Maaf, Website Sedang dalam Tahap Pengembangan. Terima kasih telah mengunjungi situs kami. Saat ini, kami sedang melakukan pengembangan dan pembaruan sistem guna memberikan pengalaman menjelajah yang lebih baik bagi Anda. Beberapa fitur mungkin belum berfungsi secara optimal. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini dan sangat mengapresiasi kesabaran Anda. Silakan kembali lagi dalam beberapa waktu ke depan.   •   
← Kembali
Tasawuf atau Al-Hikam • Senin, 05 Oktober 2026 • 16:07 WIB 5 views
Senin, 05 Oktober 2026 16:07 WIB • 2 hours ago

Ketika Nafsu Menipu Logika

Pemateri: KH. Abdul Aziz R. Mudzakkir, S.Pd.I.
Ketika Nafsu Menipu Logika

CISAUK — Manusia sering kali terjebak dalam ruang tunggu harapannya sendiri. Di ruang itu, garis antara kebutuhan nyata dan ambisi nafsu kerap kali mengabur. Kita tidak sekadar meminta kepada Tuhan, tetapi tanpa sadar mulai mendikte, memaksa, dan menuntut agar takdir berjalan sesuai rencana yang kita susun. Kisah sederhana dari sudut sebuah saung di bilangan Cisauk menjadi potret nyata bagaimana keterpautan hati pada dunia mampu membutakan logika sehat manusia.

Saat Nafsu Menipu Mata

Kisah ini bermula dari obrolan santai antara Dulloh, Amin, dan Paijo. Dengan penuh kebanggaan, Dulloh bercerita bahwa ia memiliki sebuah "barang antik" yang telah ia simpan dan rawat selama empat tahun. Nilainya ia anggap sangat istimewa, klasik, dan tiada tara.

Namun, ada satu ganjalan besar: selama empat tahun itu pula, ia belum berhasil mendapatkan lisensi resmi atau surat kepemilikan atas barang tersebut.

Demi mewujudkan ambisinya agar barang itu mutlak menjadi miliknya, Dulloh menempuh jalur langit. Ia tidak pernah absen bermunajat di sepertiga malam dan melangitkan doa di setiap akhir salat fardu. Sayangnya, ada riak yang salah dalam doanya. Ia berdoa dengan ego yang tinggi, sedikit memaksa Tuhan bahwa barang itu harus menjadi miliknya tanpa cela.

Rasa penasaran membawa Amin dan Paijo untuk melihat langsung ruang penyimpanan khusus tersebut. Ketika kain penutup berlapis itu dibuka pelan-pelan, realitas justru menampar ekspektasi. Barang yang diagungkan Dulloh sebagai benda klasik yang antik, nyatanya hanyalah sebuah barang bekas (second) biasa.

"Dul, kamu waras? Ini barang second, kamu bilang barang antik? Buka matamu, sobat! Istighfarlah! Buang nafsu serakahmu dan heningkan kalbumu agar Allah membuka hijab yang sudah menipumu bertahun-tahun," ujar Amin menyadarkan sahabatnya.

Seketika Dulloh terkulai lemas. Kabut yang selama empat tahun ini menutup matanya mendadak sirna. Nafsu telah memanipulasi pandangan logisnya, mengubah hal yang biasa menjadi luar biasa hanya karena ego ingin memiliki.

Adab Berdoa: Memohon, Bukan Mendikte

Dalam lamunan ketidakpercayaannya, Dulloh bertanya-tanya, "Apakah saya salah dalam berdoa? Padahal saya tidak putus-putus meminta pertolongan-Nya."

Amin dengan bijak meluruskan kekeliruan tersebut. Berdoa adalah perintah dan bernilai ibadah. Menaruh harapan kepada Allah adalah puncak ketauhidan karena hanya Dia tempat bersandar segala hajat. Namun, titik krusial yang harus dibenahi adalah adab. Manusia tidak boleh mendikte Allah untuk mengikuti selera pribadi.

Foto Ketika Nafsu Menipu Logika

Paijo pun turut memberikan analogi yang logis. Mengharap sebuah kendaraan adalah kewajaran yang manusiawi. Namun, memperlakukannya secara berlebihan hingga memaksakan statusnya adalah bentuk pelampiasan nafsu. Barang bekas tetaplah barang bekas. Jika dirawat dengan baik, ia akan mendatangkan fungsi yang optimal, tanpa perlu dipaksa menjadi sesuatu yang bukan kelasnya.

Mendidik Jiwa Lewat Kegelapan Hati

Untuk memperkokoh pemahaman spiritual sahabatnya, Paijo mengutip mutiara hikmah dari ulama besar Ibnu Atha'illah as-Sakandari dalam Kitab Al-Hikam:

رُبَّـمَــا اَفَـادَكَ فِى لَيْـلِ اْلقَبْضِ مَـالَمْ تَسْــتَفِدْ فِى اِشْرَاقِ نَهَـارِ اْلبَسْـطِ لَاتَـدَ رُوْنَ اَيُّهُـمْ اَقْـرَبُ لَكُـ نَفْعٌـا

“Kadang-kadang engkau mendapatkan faedah di kala kelamnya malam (waktu kesempitan/qabd), apa yang tidak engkau peroleh faedah di waktu hari terang benderang (waktu kelapangan/basth). Kalian sendiri tidak dapat mengetahui mana yang paling berfaedah bagimu.”

Kekecewaan, penolakan, dan belum dikabulkannya sebuah doa sering kali merupakan cara Tuhan untuk mendidik kematangan jiwa kita. Allah menahan sesuatu bukan karena Dia pelit, melainkan karena Dia tahu bahwa apa yang kita kejar bisa jadi membawa mudarat.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur'an:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah: 216).

Kesimpulan

Kita sering kali tertipu oleh pandangan mata dan logika mentah diri sendiri. Kita bersikeras bahwa apa yang kita inginkan adalah yang terbaik, hingga melupakan hakikat bahwa manusia adalah hamba dan Allah adalah Rabb.

Frasa Wallahu ya'lamu wa antum laa ta'lamun (Allah lebih mengetahui dari apa yang tidak kamu ketahui) harus menjadi rem utama atas segala ambisi doa kita. Saatnya bangkit dari tidur spiritual, melepaskan keterikatan nafsu, dan percaya sepenuhnya bahwa pilihan Allah adalah skenario terbaik untuk meraih kemuliaan sejati.